• Latest News

    Wednesday, September 2, 2015

    Ini Jejak Kontroversi Kabareskrim Era Budi Waseso


    Beritaseharian.com- Lahir di Pati pada 19 Februari, 55 tahun silam, nama Budi Waseso seperti momok ditubuh kepolisian terhitung satu tahun belakangan, setelah serangkaian nama-nama besar seakan diseret oleh orang yang tercatat lulus dari akademi polisi pada tahun 1984 lalu ini.

    Pada bulan Januari 2015, Presiden Joko Widodo mengumumkan Kepala Lembaga Pendidikan Polri Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai calon tunggal Kapolri. Namun, beberapa hari sebelum Budi Gunawan melewati uji kelayakan dan kepatutan oleh Komisi III DPR, lembaga anti rasuah KPK menetapkannya sebagai tersangka gratifikasi.

    Singkatnya, meskipun Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memutuskan status tersangka yang tidak sah, Budi Gunawan tetap gagal menjadi pucuk pimpinan tertinggi di Polri.

    Di tengah polemik Budi Gunawan, Jokowi memberhentikan dengan hormat Kapolri Jenderal Sutarman saat itu. Wakapolri dikendalikan wakil kepala Komjen Badrodin Haiti (sekarang Kapolri dan pangkat Jenderal). Dua hari setelah pemecatan Sutarman, ada mutasi jenderal bintang tiga di kepolisian.

    Kabareskrim Komjen Suhardi Alius digantikan Jenderal Budi Waseso, Kepala Staf dan Pimpinan Polri Budi Waseso secara langsung adalah bawahan Budi Gunawan. Dia juga selalu ikut Budi Gunawan saat menjalani tahapan sebagai calon Kapolri.

    Kepada wartawan di hari pertamanya menjabat Kabareskrim, Budi Waseso (yang kemudian berpangkat Komjen) langsung merebut perhatian masyarakat. Itu karena ia mengungkapkan ada pengkhianat di Polri. Dia tidak pernah menyebut nama. Yang jelas, menurutnya, pengkhianat perusak institusi Polri itu diproses Divisi Profesi dan Pengamanan Polri. Hingga kini belum jelas siapa pengkhianat yang dimaksudkan Budi Waseso.

    Budi Waseso kemudian menciptakan kontroversi. Ia menangkap pimpinan KPK Bambang Widjojanto. Bambang adalah salah satu pimpinan KPK, bersama-sama dengan Abraham Samad, yang mengumumkan Budi Gunawan menjadi tersangka.

    Penangkapan Bambang kemudian ditetapkan sebagai tersangka mengarahkan saksi untuk memberikan pernyataan palsu dalam sidang sengketa pilkada di Mahkamah Konstitusi, dinilai publik itu hanya bualan polisi. Bambang bahkan dikabarkan ditangkap beberapa kali, meskipun pada akhirnya itu tidak pernah terealisasi.

    Budi Waseso berulang kali menekankan bahwa Bambang ditersangkakan dalam konteks penegakan hukum. Tidak ada kriminalisasi.

    Selain Bambang Widjojanto, di bawah kendali Budi Waseso, polisi juga menersangkakan Abraham Samad. Samad dijerat kasus pemalsuan dokumen kependudukan pada tahun 2007. Kasus ini ditangani Polda Sulawesi Selatan. Samad juga merupakan tersangka dalam kasus dugaan penyalahgunaan wewenang. Dia, sebagai Ketua KPK, dituduh melakukan pertemuan dengan elit PDI Perjuangan pada saat pemilihan presiden.

    Kasus lainnya adalah ketik Bareskrim memidanakan Denny Indrayana, mantan Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia terkesan membela Abraham dan Bambang. Denny ditersangkakan dalam kasus dugaan kasus pembayaran paspor secara elektronik. Seperti kasus Samad dan Bambang, kasus Denny tidak jelas ketika akan disidangkan.

    Selain itu, masyarakat menyoroti pembukaan kembali kasus yang menyeret Novel Baswedan, penyidik ​​KPK. Novel sebenarnya ditersangkakan dalam kasus dugaan penganiayaan ketika ia menjabat Kasat Reskrim Polres Bengkulu pada tahun 2012. Presiden saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono, telah meminta polisi untuk tidak menyelidiki kasus ini sehingga tidak ada kegaduhan antar penegak Polri.

    Dalam era Budi Waseso, Novel beberapa kali diperiksa bahkan ditangkap. Tapi Novel selalu lolos dari penahanan.

    Kontroversi tidak pernah berhenti. Pekan lalu, ketika calon Panitia Seleksi pimpinan KPK bekerja, menurut Budi Waseso salah satu dari 48 calon pimpinan KPK adalah tersangka. Pernyataan Budi Waseso mengejutkan banyak pihak. Sampai hari ini, nama tersangka tidak pernah dipublikasikan. Sampai akhirnya kemarin, Bareskrim menggeledah Pertamina Foundation.

    Isu penghapusan Budi Waseso beberapa hari setelah Bareskrim menggeledah PT Pelindo II. Menteri BUMN Rini Soemarmo sempat menghubungi Kapolri Jenderal Badrodin Haiti terkait masalah ini.

    #politik #polri #kabareskrim


    • Berita Seharian Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ini Jejak Kontroversi Kabareskrim Era Budi Waseso Rating: 5 Reviewed By: Berita Seharian
    Scroll to Top