• Latest News

    Monday, March 14, 2016

    Cerita Prestasi Pemuda Indonesia di Perserikatan Bangsa Bangsa

    Dea Salsabila Amira

    Beritaseharian.com - Perkenalkan nama saya Dea Salsabila Amira, usia saya 20th, saat ini saya
    terdaftar sebagai mahasiswi tingkat akhir fakultas ekonomi dan bisnis Universitas Mercu Buana. Saya merupakan satu- satunya delegasi perwakilan Indonesia yang terpilih untuk mengikuti program Project to Mark the 70th Anniversaryof United Nations. Program ini merupakan program yang diadakan setiap lima  tahun sekali, memilih 10 delegasi pemuda terbaik dari seluruh dunia, dan saya satu-satunya orang Indonesia pertama yang terpilih sejak tahun 1995 sejak pertama kali program ini diselenggarakan.

    Jepang, Switzerland, dan Prancis

    Melalui program ini saya mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi tiga negara (Jepang, Switzerland dan Perancis), rangkaian program dimulai dari tanggal 24 Oktober hingga 1 November 2015.

    Dalam program ini, saya memberikan pidato mengenai perdamaian dunia dan perubahan iklim di kantor PBB Geneva di depan pemimpin dunia dan pemimpin PBB serta memasukan “pebbles” ke dalam Blue Porcelaine Vase sebagai simbol perdamaian dan aksi cinta serta turut menjaga lingkungan; tidak hanya itu saya juga mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi, melakukan tour serta mendengarkan presentasi dari para pemimpin badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa seperti UNESCO, WHO, IUCN dan organisasi internasional lainnya.

    Saya juga mendapatkan kesempatan untuk bertemu dan melakukan sesi tanya jawab dengan ketua MPR Jepang dan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Science dan Teknologi Jepang ketika saya berkunjung ke negeri Sakura.

    Di dalam program terdapat 10 perwakilan dari 8 negara (satu delegasi Indonesia, satu Korea Selatan, satu Mongolia, satu China, satu Amerika Serikat, satu Vietnam, satu Kamboja, dan tiga dari Jepang).

    Kami merupakan 10 pemuda terpilih.

    Delegasi Bertalenta

    Saya merasa terhormat bisa berada di tengah-tengah mereka. Teman-teman saya memiliki prestasi yang luar biasa membanggakan; delegasi Mongolia misalnya, merupakan delegasi termuda berusia 16 tahun dan pemegang nilai matematika tertinggi di dunia; delegasi dari Korea Selatan berusia 17 tahun dan menguasai lima bahasa dengan lancar; dan yang tidak kalah luar biasa delegasi dari Kamboja berusia 24 tahun dan sudah menyandang gelar PhD.

    Kami juga melakukan “Cultural Exchange party” dengan mahasiswa dan mahasiswi dari Geneva University ketika kami berada di Switzerland.

    Kegiatan Bersama PBB

    Melalui program ini saya banyak mendapatkan ilmu-ilmu baru,  seperti isu perubahan iklim, pengungsi, polio, konsep keberlanjutan dalam pertandingan Olimpiade serta isu-isu lainnya yang
    langsung di paparkan oleh para ahli. Mereka juga mengajar bagaimana pemuda dapat memberikan kontribusi terbaiknya untuk lingkungan sekitar dan bagi negaranya.

    Bagian favorit saya dalam program ini tentunya ketika saya memberikan pidato mengenai perubahan iklim dan perdamaian dunia di kantor PBB Geneva di depan para pemimpin

    PBB dan para duta besar.

    Rasanya semua mimpi saya menjadi kenyataan, saya tidak pernah membayangkan bisa berada di kantor PBB


    Rasanya semua mimpi saya menjadi kenyataan, saya tidak pernah membayangkan bisa berada di kantor PBB, berdiri di tengah-tengah para pemimpin ini, membuat mereka mendengarkan apa yang saya suarakan mengenai perdamiaan dunia dan perubahan iklim, sebagai wakil lebih dari 62 juta pemuda Indonesia, dengan sang saka merah putih di depan saya. Merupakan suatu momen paling bahagia dan membanggakan dalam hidup saya.



    Tidak hanya itu saja, dalam program  ini, saya memiliki schedule yang sangat padat, saya menjalani berbagai macam pertemuaan dari hari ke hari tanpa henti, bahkan saya hanya memiliki  waktu tidur 3-5 jam.

    Di tiap negara yang saya kunjungi, saya tidak memiliki waktu untuk istirahat di hotel, setelah tiba di bandara, saya langsung bergegas mengganti pakaian dengan "offlce attire" dan bersiap-siap untuk melakukan pertemuan-pertemuan.

    Dalam satu hari saya memiliki 4 kali meeting, bayangkan saja rasa capek nya, terlebih perjalanan jauh serta perbedaan waktu antara Asia dan Eropa, sehingga efek jetlag benar-benar terasa.

    Namun semua kelelahan saya ketika mengikuti program terbayarkan dengan koneksi yang saya dapatkan. Saya banyak bertemu dengan para pemimpin dunia di setiap pertemuan yang saya hadiri, hal ini menjadikan koneksi saya semakin luas, dan sangat berguna bagi karir saya kedepannya.

    Belajar dari Pemimpin Dunia

    Dari para pemimpin dunia ini saya banyak belajar tentang arti kepemimpinan. Mereka memiliki pola pikir dan cara pandang mengenai dunia yang berbeda dan sangat menginspirasi saya untuk bisa menjadi pemimpin yang baik di masa depan.

    Tokyo - Tidak hanya mengunjungi kantor badan-badan UN di Geneva dan Paris serta kantor Pemerintah Jepang di Tokyo, saya juga mengunjungi beberapa objek pariwisata di tiga kota tersebut, seperti ketika di Tokyo saya mengunjungi Sensoji Temple dan Tokyo Sky Tree. Di sini saya belajar bagaimana pemerintah Jepang bisa mengharmonisasikan segi modern dan kuno dari objek wisata di kota Tokyo, agar tetap menjadi daya tarik bagi pengunjungnya.

    Geneva - Di Geneva saya mengunjungi museum Olimpiade, disitu saya belajar mengenai sejarah olimpiade dan bagaimana pengorbanan para atlet-atlet dunia untuk bisa mencapai mimpi mereka, dengan menjadi pemenang dari olimpiade (Olympic medalists).

    Berbagai macam pengorbanan mereka lakukan, namun satu hal yang pasti mereka tidak pernah berhenti dan patah semangat dalam menggapai mimpi mereka.

    Paris - Di Paris saya mengujungi berbagai objek wisata, seperti Eiffel Tower. Saya juga mengujungi Museum Louvre dan menikmati indahnya kota Paris di malam hari dengan menghabiskan waktu makan malam saya di kapal pesiar yang mengitari sungai Seine. Di Paris saya belajar untuk menjunjung tinggi nilai seni dan menikmati hidup dengan damai dan penuh cinta. Saya percaya bahwa mempelajari budaya tiap negara-negara akan menjadi kunci keberhasilan memahami demokrasi sosial global.

    Ucapan Syukur

    Terakhir, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Universitas Mercu Buana, Rektor Universitas Mercu Buana: Dr. Arissetyanto Nugroho MM, Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Prof. Anies Baswedan serta Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negri Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, karena telah memberikan dukungan kepada saya untuk menjadi perwakilan Indonesia dalam acara yang bergengsi ini.

    Harapan & Cita-cita

    Saya percaya ilmu yang saya dapatkan akan berguna bagi karir saya di masa depan, dan semoga manfaat yang saya dapat melalui program ini bisa saya bagikan kepada pemuda Indonesia lainnya. Sehingga bersama-sama kita berkarya dan memberikan kontribusi terbaik untuk kemajuan masyarakat sekitar, Indonesia dan Dunia.

    _____________________________________________
    Hot Report Ns Magazine  Dea Salsabila Amira

    • Berita Seharian Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Cerita Prestasi Pemuda Indonesia di Perserikatan Bangsa Bangsa Rating: 5 Reviewed By: Berita Seharian
    Scroll to Top