• Latest News

    Sunday, March 27, 2016

    Hikayat Si Cerobong Asap



    Lokomotif Museum Transportasi TMII

    Beritaseharian.com - ‎Zaman telah berlalu jauh. Tapi kita tetap saja "menipu" anak-anak kita. Betapa tidak; hingga hari ini, sejak usia dini, buah hati kita terus saja diiming-imingi sesuatu yang tidak ada. Janji yang tak kunjung ditepati itu adalah ajakan untuk "Naik kereta api, tut-tut-tut... Ke Bandung, Surabaya... Ayo kawanku lekas naik, keretaku tak berhenti lama."

    Padahal, kalau anak-anak kita yang lucu itu menagih janji untuk naik kereta api, kita sendiri yang bakal kelimpungan karena kereta api sudah tak ada lagi. Ya, saat Saridjah Niung Bintang Soedibio--lebih akrab disapa "Bu Sud"--menggubah lagu itu, kereta api masih berseliweran dari kota ke kota di Jawa dan Sumatera. Kini, sejak awal tahun 80an, kereta api telah dipensiunkan. Sisa-sisanya difungsikan hanya untuk perjalanan wisata sentimental jarak pendek di Ambarawa dan Sumatera Barat.

    Yang dimaksud dengan kereta api sebenarnya adalah kereta bertenaga uap. Uap yang menggerakkan lokomotif itu berasal dari hasil pembakaran kayu atau pun batu bara. Di Tanah Air, kereta api pertama dioperasikan pada tahun 1867 di Semarang. Sebelas tahun kemudian, Pemerintah Belanda membangun jaringan kereta api di pulau Jawa dengan ujung-ujungnya di Tanjung Priok dan Tanjung Perak.

    Lokomotif Museum Transportasi TMII


    Untuk pengadaan kereta api, Pemerintah Belanda lalu Pemerintah Indonesia biasa memesan ke pabrik di Amerika Serikat, Jerman, dan Belanda. Kereta api pesanan Indonesia bertenaga besar, walau bukan yang paling besar, guna memenuhi tuntutan geografis yang meliuk-liuk dan naik-turun. Di beberapa wilayah bahkan secara khusus didesain lintasan rel dengan kemiringan hingga 6 derajat, ketika kebanyakan lintasan hanya berkemiringan 1 derajat.

    Rata-rata kecepatan kereta api pun hanya berkisar maksimal 40 hingga 50 km/jam. Padahal, kereta api pasti tidak mungkin dipacu hingga kecepatan maksimal. Pun perlu beberapa kali berhenti di stasiun antara. Lambat, memang.

    Jadi bisa dibayangkan, butuh berapa jam untuk perjalanan Jakarta Bandung apalagi Jakarta Surabaya. Saat berangkat, anak-anak kita riang gembira menyanyikan lagu "Naik Kereta Api" tadi. Tapi setiba di tujuan, lirik lagu pun berubah..."Turun kereta api...Ayo Kawanku lekas turun, keretaku kapan sampainya."

    Bagaimana pun, nostalgia memang tidak ada habisnya.

    ____________________________________________
    Penulis : Reza Indragiri
    Foto      : Luthfi
    • Berita Seharian Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Hikayat Si Cerobong Asap Rating: 5 Reviewed By: Berita Seharian
    Scroll to Top