• Latest News

    Tuesday, March 1, 2016

    Lima Jejak Bung Karno di "Kota Hijrah"

    Rumah Purbodiningrat / Lutfhi Fauzie / NsMagz
    Beritaseharian.com - Sebutlah Presiden Indonesia yang paling masyhur di dunia. Niscaya Sukarno, acap disapa Bung Karno, nama yang paling populer. Dalam berbagai sejarah tentang Putra Sang Fajar, Jakarta, Ende, dan Bengkulu menjadi daerah-daerah yang paling sering dikenang. "Kalah" dibandingkan tempat-tempat tersebut adalah Jogja. Padahal, Jogja menyimpan banyak jejak historis Bung Karno. Karena itulah, memisahkan ingatan tentang Bung Karno dari "Kota Hijrah" sama mustahilnya dengan menceraikan air dari samudera.

    Alun-alun / Lutfhi Fauzie / NsMagz
    "Gagalkan pembentukan "Negara Papua" bikinan kolonial Belanda!"
    1. Alun - Alun Lor

    19 Desember 1961, bertempat di Alun-alun Lor, Bung Karno mengumandangkan Trikora sebagai tanda dimulainya perjuangan menyatukan Papua Barat ke dalam wilayah Indonesia. Alun-alun Lor berhiaskan dua beringin bernama Kyai Dewandaru dan Kyai Wijayandaru. Dahulu, selain kedua beringin itu, Alun-alun Lor juga diperindah dengan enam puluh tiga beringin sebagai simbol usia Nabi Muhammad SAW.

    Sejak dulu, Alun-alur Lor telah dimanfaatkan sebagai sentra Tapa Pepe alias demonstrasi rakyat. Alkisah, rakyat berbondong-bondong ke Alun-alun Lor membawa berbagai keluhan dan problematika mereka agar didengar oleh Sultan Jogja. Masyarakat menyampaikan aspirasinya dengan bersila di antara dua pohon beringin. Mereka tak mengenakan alas kaki, payung, tongkat, dan pernak-pernik lainnya sebagai bentuk penghormatan terhadap Raja Ngayogyakarta Hadiningrat.

    Lokasi yang sama tercatat juga pernah digunakan sebagai tempat berolah kanuragan.

    "Gantungkan cita-citamu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang."
    Kraton Yogyakarta / Lutfhi Fauzie / NsMagz

    2. Siti Hinggil

    Bung Karno dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat di Bangsal Siti Hinggil pada tanggal 17 Desember 1949. Siti Hinggil adalah satu dari tujuh bagian penting di dalam komplek Keraton Jogja. Di samping tempat singgasana sultan berada, di Siti Hinggil pula biasa diselenggarakan acara-acara resmi kerajaan seperti pelantikan Sultan dan Pisowanan Agung.

    Status sebagai presiden memang mentereng. Apalagi menjadi presiden bagi sebuah wilayah yang
    pernah dikangkangi penjajah selama tiga ratusan tahun. Namun Belanda pernah melecehkan sang
    Presiden dengan mempertanyakan wilayah yang berada di bawah kepemimpinannya. Presiden tanpa tanah air tentu omong kosong belaka.

    Barulah berkat ketulusan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Kesultanan Jogja resmi menjadi wilayah pertama di dalam negara Indonesia yang berdaulat. Dan Jogja, kerajaan di dalam negara, itulah yang dinyatakan Bung Karno sebagai wilayah yang ia pimpin.

    Rumah Purbodiningrat / Lutfhi Fauzie / NsMagz
    3. Rumah Purbodinigrat
    "Barangsiapa ingin mutiara, harus berani terjun di lautan yang dalam."

    Rumah berdesain klasik Indis itu berlokasi di Jalan Patangpuluhan 22 Jogjakarta. Di situlah, pada tahun 1948, Bung Karno bersama Fatmawati Guntur Sukarnaputra serta Megawati Sukarnaputri tinggal di rumah Purbodiningrat, kawan lama Bung Karno semasa berkuliah di ITB, selama sekitar empat puluh hari.

    Di dalam rumah itu, tepatnya di ruang tamu, Bung Karno acap menggelar rapat bersama jajaran kabinetnya.

    Rumah yang asri itu masih menyimpan berbagai perabotan tua sejak zaman Bung Karno mengungsi di sana. Di situ ada mesin jahit, meja makan, lampu gantung, tempat bunga, lemari, dan telepon model baheula. Menambah kuat aura revolusioner tahun empat puluhan, sebuah radio kuno Philips BX terpajang di ruang tengah.

    Pengrajin Keris Kampung Serangan / Luthfi / NsMagz

    4. Kampung Serangan
    "Keindahan itu adalah keseimbangan."

    Bagi banyak orang di berbagai daerah Nusantara, senjata tradisional merupakan bagian yang melekat kuat dengan jatidiri mereka. Tak terkecuali Bung Karno. Sebagai pecinta seni budaya, Bapak Proklamator itu disebut-sebut juga memiliki senjata berupa keris dan benda-benda pusaka lainnya. Dan Kampung Serangan, Sleman, adalah salah satu kawasan di Nusantara yang menjadi tempat pembuatan sekaligus perawatan keris Bung Karno. Sekian banyak petinggi negara dari dalam dan luar negeri juga membuat dan melestarikan keindahan keris mereka di tempat yang sama.

    Di Kampung Serangan, keris-keris tua diruwat dan dirawat menjadi keris-keris yang baru. Usaha penatahan keris di kampung tersebut telah berlangsung sejak berabad-abad silam. Nagasasran dan Bausasran merupakan dua ornamen utama dalam seni keris di Kampung Serangan. Untuk pembuatan satu keris, dibutuhkan bahan berupa emas batangan hingga seratus gram.

    Sayangnya, tidak seperti pengrajin batik Jogja yang terus berganti generasi, hanya segelintir keluarga yang mewarisi keahlian dan pekerjaan sebagai pengrajin keris di Kampung Serangan. Namun paceklik seniman keris itu pula yang membuat keris Serangan menjadi kreasi yang "sempurna": klasik, mistik, sekaligus antik.

    Gedung Agung/ Lutfhi Fauzie / NsMagz
    5. Gedung Agung
    "Laki-laki dan perempuan adalah seperti dua sayap dari seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; Jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali."

    Hanya sepelemparan batu dari Benteng Vredeburg di ujung Malioboro adalah Gedung Agung, tempat Bung Karno dan keluarga bermukim sebagai kepala negara semasa di Jogja, sementara Bung Hatta menghuni gedung di sebelah Gedung Agung yang kini menjadi markas Korem 072/Pamungkas.

    Dari sekian banyak bangunan di komplek Gedung Agung, di bagian depan sisi kanan gedung utama terdapat Ruang Soedirman. Itulah tempat Panglima Besar Soedirman berangkulan dengan Bung Karno sebelum melancarkan aksi perang gerilya.

    Sentuhan pribadi Bung Karno selaku insinyur juga terlihat pada gedung yang pembangunannya sempat terbengkalai akibat Belanda nyaris bangkrut dalam perang Pangeran Diponegoro tahun 1825-1830. Di sisi Gedung Agung sebuah kolam rancangan Bung Karno masih bisa dinikmati hingga kini. Di situlah dulunya Bung Karno kerap memberikan kursus keperempuanan kepada wanita-wanita Indonesia. Dan kini, area yang sama dijadikan sebagai panggung terbuka untuk atraksi seni bagi tamu-tamu negara.

    _____________________________
    Penulis : Reza Indragiri Amriel / NSMagz
    Foto : Luthfi
    • Berita Seharian Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Lima Jejak Bung Karno di "Kota Hijrah" Rating: 5 Reviewed By: Berita Seharian
    Scroll to Top