• Latest News

    Wednesday, February 1, 2017

    Mengurai Sepinya Terminal Bus Terbesar Se-Asia Tenggara


    Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi bersama Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta, Soni Sumarsono, Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Sigit Wijiatmoko, Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Elly Sinaga di Terminal Terpadu Pulogebang, Jakarta Timur, Minggu (29/1/2017). Pramdia Arhando Julianto/Kompas.com

    Sebagai terminal bus terbesar di kawasan Asia Tenggara dengan luas lahan 12,5 hektar, terminal Pulogebang, Jakarta Timur, memberikan pekerjaan rumah bagi pemerintah pusat dan pemerintah Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta.

    Berlokasi di wilayah timur kota Jakarta, keberadaan terminal Pulogebang diharapkan menjadi pusat aktivitas perjalanan bus antar-kota antar-provinsi yang terintegrasi dengan sistem transportasi di wilayah Jakarta.

    Keberadaan terminal bus Pulo Gebang bukan hanya menertibkan tempat pemberangkatan dan pemberhentian bus semata dan mengurai kemacetan, di lain sisi terminal bus juga menjadi cara pemerintah untuk masyarakat mendapatkan transportasi publik yang terintegrasi aman dan nyaman.

    Memiliki empat gedung utama, bangunan megah yang mengacu konsep modern dan multilevel ini memiliki fasilitas yang tak kalah dibandingkan bandar udara. Mulai dari pendigin udara, tangga otomatis atau eskalator, serta lift dan pintu-pintu otomatis, dan papan petunjuk elektronik menjadi fasilitas yang tersedia di terminal ini.

    Kebersihan gedung, toilet, hingga sarana ibadah Musholla tak luput dari perhatian.

    Bahkan, terminal ini langsung terhubung dengan jalan tol Jakarta Out Ring Road (JORR) agar meminimalisasi dampak kemacetan.

    Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi telah mengunjungi terminal ini sebanyak tiga kali. Bukan tanpa alasan, kujungan Menhub dilakukan untuk mengembalikan aktivitas terminal Pulogebang yang telah mati suri sejak selesai pembangunan tahun 2012 lalu.

    Tercatat pada 4 Desember 2016, mantan Direktur Utama Angkasa Pura II tersebut menegaskan pemindahan pengoperasian bus-bus antar kota antar provinsi dari Terminal Pulogadung ke Pulogebang yang dilakukan secara bertahap.

    Tahap pertama, Menhub menginstruksikan, untuk dilakukan penutupan terminal bayangan yang menjadi sebab bus-bus antar kota antar provinsi enggan masuk ke terminal Pulogebang.

    "Nanti, (bus) jurusan ke Jawa Tengah dan Jawa Timur harus sudah pindah ke Pulogebang," ujar Budi Karya.

    Selanjutnya, dia meminta agar fasilitas umum seperti kantin atau gerai makanan dan minuman maupun area komersial agar segera terisi dan memudahkan masyarakat dalam memperoleh makan dan minum ketika hendak bepergian.

    Selain itu, Menhub mengatakan harus tersedia angkutan penunjang seperti feeder atau pengumpan dari dan menuju Terminal Pulogebang.

    Pada Minggu (29/1/2017), Menhub kembali melakukan kunjungan ke Pulo Gebang. Tercatat, saat kunjungan itu sudah 19 terminal bayangan yang melibatkan 450 bus AKAP ditertibkan.

    Dari jumlah keseluruhan 120 perusahaan otobus (PO) yang terdaftar di Terminal Pulogebang, baru sekitar 70 PO yang berpindah dan masih ada 50 PO yang belum pindah. Target 120 Perusahaan Otobus Belum Tercapai di Akhir Januari 2017. Padahal Menhub menargetkan, pada tanggal (29/1/2017) seluruh PO yakni 120 harus sudah beroperasi di Terminal Pulogebang.

    "Jadi, ini masih dibilang belum apa-apa, belum prestasi, kalau sudah 115 bisa dikatakan berhasil," ungkap Menhub.

    Menurut Menhub, faktor lain yang menyebabkan enggannya PO beroperasi di Terminal Pulogebang karena masih memiliki pasar yang potensial di terminal lama.

    "Mereka meyakini masih punya captive market di sana, jadi tidak pindah pun masih bisa dapat penumpang," katanya.

    Dengan itu, Menhub menginstruksikan, agar disediakan bus pengumpan atau feeder yang dioperasikan pada lokasi-lokasi yang menjadi pusat konsentrasi masyarakat menuju Terminal Pulogebang.

    Menanggapi hal itu, Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Elly Sinaga mengungkapkan, pihaknya telah melakukan survei untuk melihat lokasi mana saja yang akan ditempatkan bus-bus pengumpan ke Terminal Pulogebang.

    Dari hasil survei, feeder akan ditempatkan di Stasiun Cakung, yang membutuhkan waktu sekitar lima menit ke Pulogebang.

    Diharapkan dengan kehadiran feeder, pengoperasian Terminal Pulogebang dapat berjalan maksimal.

    Hal tersebut dilakukan pemerintah agar keberadaan Terminal Pulogebang tidak sia-sia karena telah menelan biaya pembangunan sebesar Rp 450 miliar.

    Sumber: Mengurai Sepinya Terminal Bus Terbesar Se-Asia Tenggara
    • Berita Seharian Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Mengurai Sepinya Terminal Bus Terbesar Se-Asia Tenggara Rating: 5 Reviewed By: Berita Seharian
    Scroll to Top